in my mind...

Dian dan Dunia

Creativepreneur Berjuang 2014: Line Up Borongan!

Pertama melihat e-posternya di Facebook, saya terkejut. Bagaimana tidak, pengisi acaranya Naif, Nidji, Teza Sumendra, Kahitna, Maliq & D’Essentials, dan Sheila On 7. “Acara ini nggak sembarangan,” itu pikir saya. Makin terkejut lagi melihat urutan MC seperti Fitri Tropica, Gilang Dirga, Desta, dan Vincent. Dilengkapi dengan DJ dan Art Performance.

Namun tampaknya saya harus mengurungkan niat untuk 9 Agustus 2014 tersebut karena harga tiket masuk yang terlalu mahal. Acara sebesar itu dibandrol 200 ribu rupiah. Sebuah angka yang besar bagi saya, mengingat salah satu penyelenggaranya adalah Putri Tanjung, anak dari Chairul Tanjung. Tidak masuk akal.

Tiba-tiba seorang teman membawa angin segar, membagikan 100 tiket gratis dengan syarat mempromosikan acara tersebut di media sosial. Sebuah langkah yang mudah dan murah. Langsung saya berangkat hari itu, seusai men-tweet acara tersebut.

Saya tiba di venue, Lapangan D Senayan sekitar pukul 5 sore. Karena langit masih terang, saya manfaatkan untuk berjalan-jalan melihat booth yang tersedia. Ekspektasi saya jatuh. Venue seluas Lapangan D Senayan ternyata tidak dipenuhi untuk booth. Hanya seputar sebuah tenda besar berisi berbagai macam booth, dari otomotif, media, hotel, sampai makanan dari sponsor. Kekecewaan saya ditepis dengan adanya banyak food truck di luar tenda. Berbagai jenis makanan disajikan oleh mobil-mobil besar yang parkir.

Akan tetapi, kembali saya harus kecewa karena sedikitnya art performance. Instalasi karya Gema Semesta, Dimas Hardiyanto dan Zaky Arifin tampak hanya dijadikan sebagai pemanis di venue. Disini, saya tidak menyalahkan penyelenggara, akan tetapi akan lebih baik lagi bila flow penonton diatur sedemikian rupa agar ketiga karya tersebut dapat dinikmati. Karena venue yang sangat luas, penonton merasa karya tersebut masih dapat dinikmati dari kejauhan.

Kahitna membuka penampilan setelah maghrib. Saya sendiri terkejut dengan rundown (karena saya tidak mendapat bocoran rundown. hehehe) Saya memprediksi Kahitna/ Sheila On 7 sebagai band penutup. Kahitna sukses membuat kebanyakan gadis (termasuk saya) mendendangkan lagu-lagu cinta khas mereka.

Belum puas dengan lagu-lagu cinta dari Kahitna, penonton dapat melampiaskannya melalui lagu-lagu dari Maliq seperti Dia, Heaven, dan lainnya.

Amar dan Jawa tampak begitu menjiwai beat lagu

Setelah prediksi Kahitna sebagai band penutup terbantahkan, begitu juga dengan Sheila On 7. Yang berencana pulang cepat mungkin dapat sedikit lega, karena band yang paling banyak ditunggu ini ternyata tidak tampil terakhir. Sebuah Kisah Klasik, Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku, dan lain-lain. Di sepanjang penampilannya, bergemuruh paduan massal penonton yang melimpahkan segala perasaan dan kenangannya melalui bait-bait lirik lagu.

Sepanjang perform, nama Duta dielu-elukan terus-menerus

Eros melempar pick-nya ke penonton

Mood penonton seolah dipacu untuk terus naik di setiap band yang tampil. Terlebih lagi saat Nidji mulai menyanyikan lagu-lagu dari album pertamanya yang menurut saya merupakan album yang jujur dan Nidji banget. Child dan Disco Lazy Time membuat penonton bernyanyi dan berjingkrak menyeimbangi Giring, sang frontman, yang tidak habis-habis tenaganya walau pun telah menikah. Saya pribadi merasa perform Nidji merupakan perform yang paling exciting, mengingat bagaimana interaksi Giring dengan penonton, bagaimana dia menari tanpa henti bersama Andro, sang bassis yang juga terlihat enerjik dan terpancar raut bahagia pada keduanya. RunD sang kibordis tak mau kalah. Pada lagu terakhir, ia turun dari keyboardnya untuk bergoyang lepas bersama frontmannya.

Terpancar dari wajah Giring dan Andro saling tersenyum bahagia

Giring dan RunD menari bersama di lagu terakhir. Mitos bahwa laki-laki berambut keriting itu pecicilan dibuktikan oleh mereka berdua

Terakhir, Naif menjadi penutup. Air dan Api, Piknik 72, Karena Kamu Cuma Satu, dan Mobil Balap membuat penonton kembali harus mengerahkan pita suaranya untuk bernyanyi bersama.

David membakar semangat penonton malam itu

Secara keseluruhan, tidak banyak lagu yang dimainkan masing-masing band, sekitar 4 lagu. Tapi itu semua terbayarkan dengan sejumlah kolaborasi antar vokalis yang tampil di tiap jeda pergantian band menyanyikan lagu-lagu bertemakan nasionalisme. Pada penutup, seluruh vokalis kembali turun ke panggung untuk bernyanyi bersama.

Kolaborasi seluruh vokalis pengisi acara sebelum memasuki DJ session

Dari segi art performance-nya pun keren, meski tidak banyak jumlahnya. Dari segi nama CREATIVEpreneur, konotasi di pikiran saya adalah segala berbau kreatif, khususnya art akan banyak. Ternyata tidak sesuai yang diharapkan.

Segala kekecewaan saya pada hari itu terbayar sudah, dan seluruhnya worth it. Sampai jumpa di panggung selanjutnya! :)

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1435 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Ramadhan Jazz Festival 2014

Akhirnya ada acara bagus yang mengisi bulan Ramadhan ini. Sejak saya melaksanakan praktek kerja magang selama hampir tiga bulan terakhir, rasanya masih bisa dihitung jari berapa kali saya melepas penat di acara musik. Terlebih lagi bulan Ramadhan yang sarat makna akan bulan yang sakral. Bulan yang tenang, untuk beribadah.

Diberi tahu oleh seorang sahabat, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Ramadhan Jazz Festival 2014, yang namanya masih terdengar asing di telinga saya. Ternyata, tahun ini sudah keempat kalinya diadakan. Acara yang diselenggarakan oleh pemuda pemudi pengurus Masjid Cut Meutia, Menteng ini berlangsung dari tanggal 12 sampai 13 Juli 2014, dimulai pukul 9 malam, seusai sholat Tarawih.

Saya memutuskan untuk menghadiri hari kedua, yang diisi oleh Tohpati, Idang Rasjidi, Clorophyl Band featuring Teza Sumendra dan sejumlah nama lainnya, termasuk lelaki tambun kesukaan saya, Tulus.

Setibanya saya di venue, Masjid Cut Meutia, saya bergegas menuju gerbang dan menyediakan sebuah buku komik Doraemon yang telah saya sediakan dari rumah untuk disumbangkan kepada anak yatim piatu sebagai tanda masuk. Sebenarnya saya sangat ingin mendonorkan darah sebagai tanda masuk, namun karena kurangnya informasi yang saya dapat, ternyata donor darah telah dilakukan sore sebelumnya. Untungnya sayaa telah membawa komik tersebut sebagai penggantinya.

Disambut oleh gerbang yang dihias menarik, saya melalui serambi di tengahnya. Saya menghampiri sebuah papan yang berjejer foto-foto penampil di hari pertama seperti Raisa, Gugun Blues Shelter, dan lainnya, lengkap dengan euphoria dari penonton yang antusias. ” acara ini bukan acara sembarangan,” pikirku.  Keterkejutan saya tak sampai situ. Tidak saya duga, lokasi sangat padat. Namun karena MC masih mengisi acara, saya memutuskan untuk membeli minuman dingin yang sangat saya idamkan sejak berbuka sore tadi. Sangat sulit saya untuk menerobos kerumunan penonton yang ada. Akhirnya saya terperangkap di pinggir kerumunan karena di depan panggung disediakan karpet untuk duduk, yang memakan tempat cukup banyak.

Idang Rasjidi menjadi penampil pertama yang saya lihat di acara tersebut, mendedikasikan penampilannya malam itu untuk kerabatnya yang baru saja berpulang, seorang pencetus Ramadhan Jazz Festival, pengembang musik jazz dan pendiri Warta Jazz, Ceto Mundiarso. Bersama sejumlah rekan band pengiringnya, Daud ‘Debu’ pada perkusi, Shaku Rasjidi - anaknya mengisi drum, Samuel Song - seorang anak muda berusia 15 tahun yang mengisi bass, Sastrani Titaranti pada vokal, dan Agam Hamzah - salah satu gitaris favorit saya.

image

*Idang Rasjidi memberi solo pada Samuel Song, 15 tahun, Penonton berdecak kagum dengan skillnya dan mendapat apresiasi dari penonton*

Saya cukup asing melihat formasi ini, mengingat saya kurang mengikuti seluk beluk jazz secara detil. Tetapi harus saya akui, penampilan malam itu cukup memukau saya. Suara Sastrani yang sangat ringan dan merdu mengisi tembang-tembang Idang Rasjidi dengan sempurna seperti Belum Terlambat, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Belajar Memaafkan, dan sukses merombak Takbir menjadi satu aransemen yang menyenangkan.

image

*Agam Hamzah memastikan Samuel Song sesuai dengan irama. Idang mengakui formasi hari itu minim latihan*

image

*Shaku Rasjidi, putra dari Idang Rasjidi yang dirangkul untuk perform bersama ayahnya*

Setelah Idang Rasjidi tampil, MC memanggil tamu kehormatan yang membuat saya kaget. Wiranto, seorang politisi yang ternyata adalah membina dari pengurus pemuda-pemudi Masjid Cut Meuthia memberikan beberapa kata sambutan dan bernyanyi sebuah tembang religi Dengan Menyebut Nama Allah dengan sangat menghayati sampai beliau memejamkan matanya.Beliau mengakui, di acara itu beliau melepas predikatnya sebagai seorang politisi dan terjun di Masjid Cut Meuthia murni sebagai pembina pengurus dan menyerahkan beberapa sumbangan beras secara simbolis sebagai bukti kerja pemuda-pemudi untuk masyarakat yang membutuhkan.

image

*Wiranto menyanyikan Dengan Menyebut Nama Allah yang pernah dipopulerkan oleh Gigi*

Penampil selanjutnya adalah Tohpati. Namun, penonton sudah terlanjur antusias dengan Tulus sehingga saya merasa Tohpati cukup tersingkir karena kurangnya pengetahuan MC tentang Tohpati dan cenderung membahas Tulus. Sederhana. Dengan formasi yang hanya berdua, dengan Ricad Hutapea pada saxophone, Tohpati sukses mengalihkan pikiran saya tentang Tulus. Tidak banyak lagu yang dimainkannya, namun berdurasi cukup lama. Antara lain: Song for You (sebuah lagu dari album keenamnya yang diadaptasi oleh Marcell menjadi lagu Semusim), kemudian dimedley dengan Semusim diiringi choir massa menyanyikan liriknya, dan My Dream, yang berkisah keinginan Tohpati untuk berkunjung ke tanah suci. Penampilan duo instrumental tersebut berhasil menaikkan mood saya yang saat itu tengah jenuh dan lelah akibat berdiri terlalu lama.

image

*tembang yang dilantunkan permainan gitar Tohpati sangat mengagumkan*

Setelah Tohpati menutup penampilannya dengan apik dan dilanjutkan oleh sesosok lelaki tambun yang telah saya nanti, Tulus. Membuka penampilan dengan Baru, sebuah lagu yang cukup mengguncang emosi saya karena liriknya yang cukup menggambarkan kebangkitan seseorang dari masa rapuhnya. Dilanjutkan dengan Matahari, Gajah - yang serupa dengan judul album keduanya, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Sewindu, dan ditutup dengan Sepatu, atas permintaan penonton yang meminta satu lagu lagi. Sepatu yang menjadi single pertama dari album Gajah-nya itu sukses membuat penonton bernyanyi bersama dengan sangat menghayati. Saya yakin banyak diantara kami yang pernah mengalami hal serupa. Hehehe.

image

*penampilan Tulus memukau. seperti biasanya*

image

*tubuhnya yang tambun memerlukan angin sejenak*

image

*Anto Arief, gitaris Tulus yang juga menggawangi 70’s Orgasm Club. Sangat suka dengan album terbarunya! :D (maaf salah fokus)*

Masih ada sejumlah nama yang tampil setelah Tulus seperti Teza Sumendra, namun karena waktu yang sudah sangat larut malam, pukul 12, dan harus sahur, membuat saya dengan berat hati harus menyudahi hiburan di malam Ramadhan tersebut.

halo.

halo.

“akan ada waktunya saya berhenti. menyeka keringat. dan kembali berjalan. berbelok di persimpangan jalan.”

Selamat ulang tahun, Aryo Pramesworo.
sahabat yang selalu memberi pesan positif.

Aryo adalah orang paling cuek. Dia tidak menyadari keberadaannya sendiri di kerumunan. Sehingga sering kali saya harus menjemputnya ketika kami hendak bertemu. Lokasi adalah hal yang lumrah untuk kami debatkan karena kesulitannya mencari satu titik temu yang kami janjikan.

Di saat yang bersamaan, dia sangat peduli. Tiba-tiba handphone berbunyi, mengantar pesan darinya walau sekedar menanyakan kabar yang berujung “God bless you”, atau ” sukses ya, Di,” walau sesungguhnya dia tidak tahu persis apa yang tengah saya kerjakan.

Orang dengan aura positif. Orang yang sangat saya jaga. Tidak saya biarkan orang-orang memanfaatkan kebaikannya. 

Semoga lo lekas lulus ya, Yo. Selesaikan studinya, agar bokap bahagia di atas sana. Salam juga untuk Ria, kembaran lo. Sampaikan selamat juga untuknya. Sukses di segala aspek kehidupan, ga lagi galau tentang cewek. hehehe :) Semoga persahabatan kita abadi.

Tuhan memberkati!

“Ada waktu di mana Saya ingin sekali banyak membahagiakan orang lain. Tapi, ada pula waktu di mana Saya merasa, membahagiakan diri sendiri juga nggak kalah penting.”

—   Tulus

“Teruntuk kamu yang terjaga dalam dekap angan dan doaku. Selamat beristirahat. Semesta menyertai.”

Apa yang Pernah Kita Punya

Pernah saya berangan. Tentang penantian panjang. Akan suatu kepastian. Yang menjanjikan bahagia. Pernahkah kamu berpikir demikian? Tidak muluk-muluk. Kamu tahu apa yang hendak saya sampaikan.

Apa yang pernah kita punya? Apa yang pernah kamu punya, yang sekarang belum kamu temukan lagi? Perasaan lucu yang menggelitik perut. Dan mereka menyebutnya “butterflies in my tummy”

Apa yang saya punya dulu adalah anugerah. Sampai saya berpikir, bahwa anugerah itu akan memberi kepastian akan satu tempat yang terpampang manis nama saya. Di satu tempat bernama bahagia.

"Apa yang membuat kamu bahagia?"
Dengan dangkalnya saya menjawab, “Cinta.”
“Siapa?”
“seorang Adam.” jawabku.

Sebagian dari diri saya mengatakan, “Sungguh lemah kamu, dasar pemimpi!”
Namun sebagian lagi menerima kelemahan itu.

Ketika kamu memiliki seseorang, apakah kamu berpikir bahwa kamu benar memilikinya? Apakah kamu berpikir bahwa kamu pun miliknya? Ketika kamu memiliki seseorang, ditutuplah matamu. Buta. Meraba.

Dan perlahan kamu telanjangi jiwa kamu, untuk diberi. Kuatlah keyakinanmu padanya. Jadilah kuat, dan kamu akan baik baik saja. Itu pikirmu.

Saya pernah menelanjangi jiwa saya. Pernah. Hancur. Kecewa? Pasti.

Satu hal yang pasti. Saya bersyukur saya tidak mati, seperti yang pernah saya tuturkan kepada seorang sahabat. Bersyukur duniaku tidak runtuh. Dulu dia duniaku, lalu kuhilangkan. Duniaku masih berputar. Baiklah, aku rasa ini saatnya menggali hasrat lebih dalam. Selain ‘dia’.

Menemukan diri, mengenal kekurangan diri. Yang membuatnya lebih berkembang dengan orang lain, ketimbang dengan diri ini. Introspeksi yang memakan waktu yang cukup lama ternyata. Menyapu puing-puing yang tersisa, menaruh sebagian yang dianggap berharga ke dalam lemari kaca. Membiarkannya tersimpan rapi dan berdebu di dalamnya. Tidak akan saya sentuh lagi.

Itu saya. Now look at you.
Cukup sudah saya bermain dengan ketidakpastian. Saudara pun sudah ‘menelanjangi’ jiwa saudara pada saya. Apa itu sudah seluruhnya yang saya lihat? Izinkan saya melihatnya, seutuhnya.
Telah kamu lihat lara saya. Telah kamu ketahui hasrat saya. Telah kamu lihat cita cita saya. Sekarang izinkan saya menjadi apa yang akan kamu punya.

Tentang Hubungan Darah.

"Harta yang paling berharga, adalah keluarga." kutipan lagu soundtrack sinetron Keluarga Cemara yang populer di tahun 90-an ini melekat erat dan sarat makna akan keluarga - seperti nama serial itu sendiri.

Jujur, saya dulu merasa bukan “family girl’. Bukan anak yang setiap saat bersama keluarga, weekend bersama keluarga, atau bukan anak yang bisa terang-terangan mengungkapkan bahwa saya menyayangi ibu atau kakak saya. Saya tipe orang yang cukup gengsi mengungkapkan itu semua.

Terlahir dari keluarga yang utuh, seorang ibu, bapak, dan kakak perempuan yang usianya terpantau 2 tahun lebih tua dari saya. Yang menurut saya cukup ideal untuk menjadi satu keluarga yang solid.

Saya termasuk anak yang memiliki masa kecil yang bahagia. Walau pun tidak sepenuhnya dibesarkan sebagai anak perempuan, saya yang sangat dekat dengan bapak saya kerap dibelikan sejumlah mainan mobil-mobilan. Hal ini membuat saya menjadi sangat tomboy. Dan menjadi feminim adalah hal yang tabu bagi saya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kedua orangtua saya tidak berjalan dengan baik. Mereka memutuskan untuk berpisah. Bapak tidak lagi tinggal di rumah dan ibu membawa perkaranya ke Pengadilan Agama. Suatu hari, entah di sidang yang keberapa, ibu mengajak saya dan kakak saya untuk menentukan hak asuh kami.

“Dian mau ikut siapa?” tanya seorang lelaki yang duduk di hadapan saya di ruangan itu.

Terputar kembali segala kenangan bersama bapak yang menyenangkan yang kemudian dihancurkan oleh bentakannya yang menjadi reaksi atas sifat saya yang mulai kritis, menanyakan kenapa bapaknya jarang di rumah ketika ia hendak pergi di malam hari, yang berujung pertengkaran orang tua saya.

“Ibu.” Sesederhana itu jawaban saya.

Dan teringat tangis ibu setelah bapak pergi dengan murkanya. Ya. Saya mantap untuk memilih tinggal bersama ibu. Dengan kakak saya.
Setelah resmi berpisah, hidup saya tidak banyak berubah. Saya telah terbiasa tinggal di rumah tanpa bapak, karena sebelum resmi berpisah, dia sudah lama tidak di rumah. Kehadirannya di hidup saya seperti tikus. Mengendap endap, menampakkan diri di layar ponsel saya, lalu sembunyi. Sembunyi dari keluarga ibu saya.

Saya takut.
Takut sosoknya kembali. Karena bagaimana pun juga, dia telah menghilang dari hidup saya selama hampir 12 tahun. Terakhir berkomunikasi dengannya, dia pribadi yang sangat berbeda. Medok. Begitulah yang saya ingat. Mungkin karena dia pernah tinggal di Jawa.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.
Kehidupan setelahnya…. biasa saja. Hanya saja, kami kurang sosok yang mengerti otomotif, dan hal-hal lain yang cenderung dilakukan laki-laki. Tapi, kami cenderung bahagia. Saya sangat bersyukur ibu bekerja untuk menghidupi kami. Ibu adalah sosok wanita yang sangat kagumi. Seorang single fighter yang berjuang demi anak-anaknya.

Sejak berpisah, ibu adalah sosok ibu dan bapak. Namun, ibu bukan sosok yang keras seperti bapak. Beliau tidak pernah melarang saya, asalkan saya tahu batasan batasannya. Saya sangat beruntung karena saya tumbuh menjadi anak (korban broken home) yang tidak mengarah ke hal-hal negatif. Saya merasa harus melindungi ibu dari orang yang seperti bapak.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan teman-teman baru. Dan keluarga tidak lagi menjadi prioritas. Saya rasa teman teman pernah merasakannya. Hampir setiap akhir pekan saya pergi bersama teman dan pulang larut malam, atau pergi pacaran (waktu dulu punya pacar hehe)
Begitu pula dengan kakak saya. Sampai pernah suatu waktu ibu sudah lama tidak pergi nonton bioskop, dan tidak ada yang bisa menemani. Saya jadi sedih mengingatnya.

Perlahan saya mendekatkan diri pada keluarga. Sebisa mungkin berada di rumah bila tidak ada kepentingan di luar. Walau pun sangat sulit untuk menolak ajakan teman keluar. Ikut pergi bersama keluarga, walau pun hanya sebatas ke mal (perempuan. hal yang lumrah, bukan? hehe)

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke rumah eyang - orangtua dari ibu. Saya menunggu ibu untuk menjemput saya di rumah eyang. Di sana, saya biasanya berleha-leha di kasur sambil menonton televisi bersama eyang kakung, sementara eyang putri berada di ruang tamu, entah menjahit atau berbenah rumah.

Saya yang saat itu merasa sangat lelah mulai memejamkan mata saya. Tak lama saya merasakan tangan keriput membelai lembut kepala saya. Eyang kakung membelai saya. Nyaman. Tidak seperti sebelumnya saya selalu diberi nasehat oleh beliau tentang kejamnya dunia, tentang bagaimana copet-copet atau pelaku pemerkosaan melantarkan aksi kriminalnya yang mungkin saja bisa saya alami sewaktu-waktu (amit-amit). Atau yang paling membuat saya tidak nyaman ketika beliau membuka luka lama saya, tentang bapak saya, dengan sejumlah kesalahannya yang belum pernah saya ketahui yang membuat telinga saya pengang dan ingin menyudahi obrolan itu yang berujung kembali membenci bapak.

Nyaman.
Tidak ada kata lain yang dapat mendeskripsikannya. Saya ingin berada di samping eyang selamanya. Dan perlahan saya tersadar akan pentingnya menjaga hubungan darah ini.