in my mind...

Dian dan Dunia

Selamat Hari Raya Idul Fitri
1 Syawal 1435 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Ramadhan Jazz Festival 2014

Akhirnya ada acara bagus yang mengisi bulan Ramadhan ini. Sejak saya melaksanakan praktek kerja magang selama hampir tiga bulan terakhir, rasanya masih bisa dihitung jari berapa kali saya melepas penat di acara musik. Terlebih lagi bulan Ramadhan yang sarat makna akan bulan yang sakral. Bulan yang tenang, untuk beribadah.

Diberi tahu oleh seorang sahabat, saya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Ramadhan Jazz Festival 2014, yang namanya masih terdengar asing di telinga saya. Ternyata, tahun ini sudah keempat kalinya diadakan. Acara yang diselenggarakan oleh pemuda pemudi pengurus Masjid Cut Meutia, Menteng ini berlangsung dari tanggal 12 sampai 13 Juli 2014, dimulai pukul 9 malam, seusai sholat Tarawih.

Saya memutuskan untuk menghadiri hari kedua, yang diisi oleh Tohpati, Idang Rasjidi, Clorophyl Band featuring Teza Sumendra dan sejumlah nama lainnya, termasuk lelaki tambun kesukaan saya, Tulus.

Setibanya saya di venue, Masjid Cut Meutia, saya bergegas menuju gerbang dan menyediakan sebuah buku komik Doraemon yang telah saya sediakan dari rumah untuk disumbangkan kepada anak yatim piatu sebagai tanda masuk. Sebenarnya saya sangat ingin mendonorkan darah sebagai tanda masuk, namun karena kurangnya informasi yang saya dapat, ternyata donor darah telah dilakukan sore sebelumnya. Untungnya sayaa telah membawa komik tersebut sebagai penggantinya.

Disambut oleh gerbang yang dihias menarik, saya melalui serambi di tengahnya. Saya menghampiri sebuah papan yang berjejer foto-foto penampil di hari pertama seperti Raisa, Gugun Blues Shelter, dan lainnya, lengkap dengan euphoria dari penonton yang antusias. ” acara ini bukan acara sembarangan,” pikirku.  Keterkejutan saya tak sampai situ. Tidak saya duga, lokasi sangat padat. Namun karena MC masih mengisi acara, saya memutuskan untuk membeli minuman dingin yang sangat saya idamkan sejak berbuka sore tadi. Sangat sulit saya untuk menerobos kerumunan penonton yang ada. Akhirnya saya terperangkap di pinggir kerumunan karena di depan panggung disediakan karpet untuk duduk, yang memakan tempat cukup banyak.

Idang Rasjidi menjadi penampil pertama yang saya lihat di acara tersebut, mendedikasikan penampilannya malam itu untuk kerabatnya yang baru saja berpulang, seorang pencetus Ramadhan Jazz Festival, pengembang musik jazz dan pendiri Warta Jazz, Ceto Mundiarso. Bersama sejumlah rekan band pengiringnya, Daud ‘Debu’ pada perkusi, Shaku Rasjidi - anaknya mengisi drum, Samuel Song - seorang anak muda berusia 15 tahun yang mengisi bass, Sastrani Titaranti pada vokal, dan Agam Hamzah - salah satu gitaris favorit saya.

image

*Idang Rasjidi memberi solo pada Samuel Song, 15 tahun, Penonton berdecak kagum dengan skillnya dan mendapat apresiasi dari penonton*

Saya cukup asing melihat formasi ini, mengingat saya kurang mengikuti seluk beluk jazz secara detil. Tetapi harus saya akui, penampilan malam itu cukup memukau saya. Suara Sastrani yang sangat ringan dan merdu mengisi tembang-tembang Idang Rasjidi dengan sempurna seperti Belum Terlambat, Di Bawah Sinar Bulan Purnama, Belajar Memaafkan, dan sukses merombak Takbir menjadi satu aransemen yang menyenangkan.

image

*Agam Hamzah memastikan Samuel Song sesuai dengan irama. Idang mengakui formasi hari itu minim latihan*

image

*Shaku Rasjidi, putra dari Idang Rasjidi yang dirangkul untuk perform bersama ayahnya*

Setelah Idang Rasjidi tampil, MC memanggil tamu kehormatan yang membuat saya kaget. Wiranto, seorang politisi yang ternyata adalah membina dari pengurus pemuda-pemudi Masjid Cut Meuthia memberikan beberapa kata sambutan dan bernyanyi sebuah tembang religi Dengan Menyebut Nama Allah dengan sangat menghayati sampai beliau memejamkan matanya.Beliau mengakui, di acara itu beliau melepas predikatnya sebagai seorang politisi dan terjun di Masjid Cut Meuthia murni sebagai pembina pengurus dan menyerahkan beberapa sumbangan beras secara simbolis sebagai bukti kerja pemuda-pemudi untuk masyarakat yang membutuhkan.

image

*Wiranto menyanyikan Dengan Menyebut Nama Allah yang pernah dipopulerkan oleh Gigi*

Penampil selanjutnya adalah Tohpati. Namun, penonton sudah terlanjur antusias dengan Tulus sehingga saya merasa Tohpati cukup tersingkir karena kurangnya pengetahuan MC tentang Tohpati dan cenderung membahas Tulus. Sederhana. Dengan formasi yang hanya berdua, dengan Ricad Hutapea pada saxophone, Tohpati sukses mengalihkan pikiran saya tentang Tulus. Tidak banyak lagu yang dimainkannya, namun berdurasi cukup lama. Antara lain: Song for You (sebuah lagu dari album keenamnya yang diadaptasi oleh Marcell menjadi lagu Semusim), kemudian dimedley dengan Semusim diiringi choir massa menyanyikan liriknya, dan My Dream, yang berkisah keinginan Tohpati untuk berkunjung ke tanah suci. Penampilan duo instrumental tersebut berhasil menaikkan mood saya yang saat itu tengah jenuh dan lelah akibat berdiri terlalu lama.

image

*tembang yang dilantunkan permainan gitar Tohpati sangat mengagumkan*

Setelah Tohpati menutup penampilannya dengan apik dan dilanjutkan oleh sesosok lelaki tambun yang telah saya nanti, Tulus. Membuka penampilan dengan Baru, sebuah lagu yang cukup mengguncang emosi saya karena liriknya yang cukup menggambarkan kebangkitan seseorang dari masa rapuhnya. Dilanjutkan dengan Matahari, Gajah - yang serupa dengan judul album keduanya, Jangan Cintai Aku Apa Adanya, Sewindu, dan ditutup dengan Sepatu, atas permintaan penonton yang meminta satu lagu lagi. Sepatu yang menjadi single pertama dari album Gajah-nya itu sukses membuat penonton bernyanyi bersama dengan sangat menghayati. Saya yakin banyak diantara kami yang pernah mengalami hal serupa. Hehehe.

image

*penampilan Tulus memukau. seperti biasanya*

image

*tubuhnya yang tambun memerlukan angin sejenak*

image

*Anto Arief, gitaris Tulus yang juga menggawangi 70’s Orgasm Club. Sangat suka dengan album terbarunya! :D (maaf salah fokus)*

Masih ada sejumlah nama yang tampil setelah Tulus seperti Teza Sumendra, namun karena waktu yang sudah sangat larut malam, pukul 12, dan harus sahur, membuat saya dengan berat hati harus menyudahi hiburan di malam Ramadhan tersebut.

halo.

halo.

“akan ada waktunya saya berhenti. menyeka keringat. dan kembali berjalan. berbelok di persimpangan jalan.”

Selamat ulang tahun, Aryo Pramesworo.
sahabat yang selalu memberi pesan positif.

Aryo adalah orang paling cuek. Dia tidak menyadari keberadaannya sendiri di kerumunan. Sehingga sering kali saya harus menjemputnya ketika kami hendak bertemu. Lokasi adalah hal yang lumrah untuk kami debatkan karena kesulitannya mencari satu titik temu yang kami janjikan.

Di saat yang bersamaan, dia sangat peduli. Tiba-tiba handphone berbunyi, mengantar pesan darinya walau sekedar menanyakan kabar yang berujung “God bless you”, atau ” sukses ya, Di,” walau sesungguhnya dia tidak tahu persis apa yang tengah saya kerjakan.

Orang dengan aura positif. Orang yang sangat saya jaga. Tidak saya biarkan orang-orang memanfaatkan kebaikannya. 

Semoga lo lekas lulus ya, Yo. Selesaikan studinya, agar bokap bahagia di atas sana. Salam juga untuk Ria, kembaran lo. Sampaikan selamat juga untuknya. Sukses di segala aspek kehidupan, ga lagi galau tentang cewek. hehehe :) Semoga persahabatan kita abadi.

Tuhan memberkati!

“Ada waktu di mana Saya ingin sekali banyak membahagiakan orang lain. Tapi, ada pula waktu di mana Saya merasa, membahagiakan diri sendiri juga nggak kalah penting.”

—   Tulus

“Teruntuk kamu yang terjaga dalam dekap angan dan doaku. Selamat beristirahat. Semesta menyertai.”

Apa yang Pernah Kita Punya

Pernah saya berangan. Tentang penantian panjang. Akan suatu kepastian. Yang menjanjikan bahagia. Pernahkah kamu berpikir demikian? Tidak muluk-muluk. Kamu tahu apa yang hendak saya sampaikan.

Apa yang pernah kita punya? Apa yang pernah kamu punya, yang sekarang belum kamu temukan lagi? Perasaan lucu yang menggelitik perut. Dan mereka menyebutnya “butterflies in my tummy”

Apa yang saya punya dulu adalah anugerah. Sampai saya berpikir, bahwa anugerah itu akan memberi kepastian akan satu tempat yang terpampang manis nama saya. Di satu tempat bernama bahagia.

"Apa yang membuat kamu bahagia?"
Dengan dangkalnya saya menjawab, “Cinta.”
“Siapa?”
“seorang Adam.” jawabku.

Sebagian dari diri saya mengatakan, “Sungguh lemah kamu, dasar pemimpi!”
Namun sebagian lagi menerima kelemahan itu.

Ketika kamu memiliki seseorang, apakah kamu berpikir bahwa kamu benar memilikinya? Apakah kamu berpikir bahwa kamu pun miliknya? Ketika kamu memiliki seseorang, ditutuplah matamu. Buta. Meraba.

Dan perlahan kamu telanjangi jiwa kamu, untuk diberi. Kuatlah keyakinanmu padanya. Jadilah kuat, dan kamu akan baik baik saja. Itu pikirmu.

Saya pernah menelanjangi jiwa saya. Pernah. Hancur. Kecewa? Pasti.

Satu hal yang pasti. Saya bersyukur saya tidak mati, seperti yang pernah saya tuturkan kepada seorang sahabat. Bersyukur duniaku tidak runtuh. Dulu dia duniaku, lalu kuhilangkan. Duniaku masih berputar. Baiklah, aku rasa ini saatnya menggali hasrat lebih dalam. Selain ‘dia’.

Menemukan diri, mengenal kekurangan diri. Yang membuatnya lebih berkembang dengan orang lain, ketimbang dengan diri ini. Introspeksi yang memakan waktu yang cukup lama ternyata. Menyapu puing-puing yang tersisa, menaruh sebagian yang dianggap berharga ke dalam lemari kaca. Membiarkannya tersimpan rapi dan berdebu di dalamnya. Tidak akan saya sentuh lagi.

Itu saya. Now look at you.
Cukup sudah saya bermain dengan ketidakpastian. Saudara pun sudah ‘menelanjangi’ jiwa saudara pada saya. Apa itu sudah seluruhnya yang saya lihat? Izinkan saya melihatnya, seutuhnya.
Telah kamu lihat lara saya. Telah kamu ketahui hasrat saya. Telah kamu lihat cita cita saya. Sekarang izinkan saya menjadi apa yang akan kamu punya.

Tentang Hubungan Darah.

"Harta yang paling berharga, adalah keluarga." kutipan lagu soundtrack sinetron Keluarga Cemara yang populer di tahun 90-an ini melekat erat dan sarat makna akan keluarga - seperti nama serial itu sendiri.

Jujur, saya dulu merasa bukan “family girl’. Bukan anak yang setiap saat bersama keluarga, weekend bersama keluarga, atau bukan anak yang bisa terang-terangan mengungkapkan bahwa saya menyayangi ibu atau kakak saya. Saya tipe orang yang cukup gengsi mengungkapkan itu semua.

Terlahir dari keluarga yang utuh, seorang ibu, bapak, dan kakak perempuan yang usianya terpantau 2 tahun lebih tua dari saya. Yang menurut saya cukup ideal untuk menjadi satu keluarga yang solid.

Saya termasuk anak yang memiliki masa kecil yang bahagia. Walau pun tidak sepenuhnya dibesarkan sebagai anak perempuan, saya yang sangat dekat dengan bapak saya kerap dibelikan sejumlah mainan mobil-mobilan. Hal ini membuat saya menjadi sangat tomboy. Dan menjadi feminim adalah hal yang tabu bagi saya.

Seiring berjalannya waktu, hubungan kedua orangtua saya tidak berjalan dengan baik. Mereka memutuskan untuk berpisah. Bapak tidak lagi tinggal di rumah dan ibu membawa perkaranya ke Pengadilan Agama. Suatu hari, entah di sidang yang keberapa, ibu mengajak saya dan kakak saya untuk menentukan hak asuh kami.

“Dian mau ikut siapa?” tanya seorang lelaki yang duduk di hadapan saya di ruangan itu.

Terputar kembali segala kenangan bersama bapak yang menyenangkan yang kemudian dihancurkan oleh bentakannya yang menjadi reaksi atas sifat saya yang mulai kritis, menanyakan kenapa bapaknya jarang di rumah ketika ia hendak pergi di malam hari, yang berujung pertengkaran orang tua saya.

“Ibu.” Sesederhana itu jawaban saya.

Dan teringat tangis ibu setelah bapak pergi dengan murkanya. Ya. Saya mantap untuk memilih tinggal bersama ibu. Dengan kakak saya.
Setelah resmi berpisah, hidup saya tidak banyak berubah. Saya telah terbiasa tinggal di rumah tanpa bapak, karena sebelum resmi berpisah, dia sudah lama tidak di rumah. Kehadirannya di hidup saya seperti tikus. Mengendap endap, menampakkan diri di layar ponsel saya, lalu sembunyi. Sembunyi dari keluarga ibu saya.

Saya takut.
Takut sosoknya kembali. Karena bagaimana pun juga, dia telah menghilang dari hidup saya selama hampir 12 tahun. Terakhir berkomunikasi dengannya, dia pribadi yang sangat berbeda. Medok. Begitulah yang saya ingat. Mungkin karena dia pernah tinggal di Jawa.

Tapi bukan itu yang ingin saya ceritakan.
Kehidupan setelahnya…. biasa saja. Hanya saja, kami kurang sosok yang mengerti otomotif, dan hal-hal lain yang cenderung dilakukan laki-laki. Tapi, kami cenderung bahagia. Saya sangat bersyukur ibu bekerja untuk menghidupi kami. Ibu adalah sosok wanita yang sangat kagumi. Seorang single fighter yang berjuang demi anak-anaknya.

Sejak berpisah, ibu adalah sosok ibu dan bapak. Namun, ibu bukan sosok yang keras seperti bapak. Beliau tidak pernah melarang saya, asalkan saya tahu batasan batasannya. Saya sangat beruntung karena saya tumbuh menjadi anak (korban broken home) yang tidak mengarah ke hal-hal negatif. Saya merasa harus melindungi ibu dari orang yang seperti bapak.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menemukan teman-teman baru. Dan keluarga tidak lagi menjadi prioritas. Saya rasa teman teman pernah merasakannya. Hampir setiap akhir pekan saya pergi bersama teman dan pulang larut malam, atau pergi pacaran (waktu dulu punya pacar hehe)
Begitu pula dengan kakak saya. Sampai pernah suatu waktu ibu sudah lama tidak pergi nonton bioskop, dan tidak ada yang bisa menemani. Saya jadi sedih mengingatnya.

Perlahan saya mendekatkan diri pada keluarga. Sebisa mungkin berada di rumah bila tidak ada kepentingan di luar. Walau pun sangat sulit untuk menolak ajakan teman keluar. Ikut pergi bersama keluarga, walau pun hanya sebatas ke mal (perempuan. hal yang lumrah, bukan? hehe)

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke rumah eyang - orangtua dari ibu. Saya menunggu ibu untuk menjemput saya di rumah eyang. Di sana, saya biasanya berleha-leha di kasur sambil menonton televisi bersama eyang kakung, sementara eyang putri berada di ruang tamu, entah menjahit atau berbenah rumah.

Saya yang saat itu merasa sangat lelah mulai memejamkan mata saya. Tak lama saya merasakan tangan keriput membelai lembut kepala saya. Eyang kakung membelai saya. Nyaman. Tidak seperti sebelumnya saya selalu diberi nasehat oleh beliau tentang kejamnya dunia, tentang bagaimana copet-copet atau pelaku pemerkosaan melantarkan aksi kriminalnya yang mungkin saja bisa saya alami sewaktu-waktu (amit-amit). Atau yang paling membuat saya tidak nyaman ketika beliau membuka luka lama saya, tentang bapak saya, dengan sejumlah kesalahannya yang belum pernah saya ketahui yang membuat telinga saya pengang dan ingin menyudahi obrolan itu yang berujung kembali membenci bapak.

Nyaman.
Tidak ada kata lain yang dapat mendeskripsikannya. Saya ingin berada di samping eyang selamanya. Dan perlahan saya tersadar akan pentingnya menjaga hubungan darah ini.

gambling itu ibarat naik taksi

Transportasi yang cukup memanjakan kita dengan rute yang semau kita. Dengan keeksklusifan taksi ini, kocek yang harus lo rogoh itu juga sebanding dengan jauhnya perjalanan kita. Itu kenapa mungkin gak banyak dari kita yang gak pake taksi kalo lagi gak kepepet. Kalo lagi pingin naik taksi tapi kocek terbatas, biasanya ambil yang tarif bawah. Atau kalo yang mau lagi buang duit atau memang memprioritaskan aman, biasanya kita naik yang ‘biru’.

Menurut gue, naik taksi itu agak-agak gambling. Iya, gambling. Kita gak tau supir taksi dengan karakter seperti apakah yang nanti kita dapet, atmosfer seperti apa yang akan kita dapat. Aroma ruangannya, dapat radio apa gak di dalemnya, kita gak tau. Karena kita cegat secara random.

Gue pribadi termasuk orang yang gak mau dan gak dibolehin orangtua untuk repot-repot jalan untuk nyegat bus sendirian karena alasan keamanan. Biasanya, kalo supir dipake, gue cenderung minta dijemput teman, atau naik taksi. Tinggal telpon, sekitar 15 menit kemudian taksi sampe di depan rumah. Dan karena alas an keamanan pula gue hanya diperbolehkan naik taksi biru itu. Yasudah, mau kanker (kantong kering) gapapa dah, asal selamat sampe tujuan. Begitu pikir gue.

Sampai pada suatu sore, gue berencana untuk ketemu teman lama gue, Ryant Mbek. Hari itu hari Minggu, dan kami sepakat untuk nongkrong di PIM malam-malam, karena dia ada urusan juga disana. Masalahnya adalah, gimana kita akan ketemu? Mbek yang siangnya abis landing dari Jogja, yang setelahnya bertengger di kosan temannya (yang teman gue juga) di daerah Bangka, gak bawa kendaraan, dan gue juga gak ada yang anter.

“Pake taksi aja. Ntar lo jemput gue di kosan, kita ke PIM” Kata Mbek.

Gue yang rumahnya di Pancoran mikir. Bener juga, sih. Dari Pancoran, ke Bangka, terus PIM akan sekali jalan. Oke, deh! ” Dasar lu cowok manja bisa aja yeh gua jemput.” Cus!

Kemudian gue menelepon taksi biru untuk menjemput gue di rumah. Gak lama, taksi biru itu sudah standby di depan rumah untuk menjemput gue.

“Malam, mas” sapa gue seperti biasa kalo baru masuk taksi.

“Malam, mbak. Mau kemana?” jawabnya.

“Ke Bangka ya, mas. Terus abis itu ke PIM” Jawab gue

Supir taksi itu menjalankan mobilnya, menuju Bangka.

“Sudah jam segini baru mau ke mal, neng? Ga keburu tutup nanti?” kata supir taksi, yang selanjutnya akan kita sebut Tarno karena gue gak perhatikan kartu identitasnya, karena di dalam taksi terlalu gelap, gak kebaca.

“Iya, mas. Sebenernya saya juga males ke mal. Saya mah ngikut temen aja,” jawab gue

Yap, waktu gue  berangkat dari rumah aja itu sekitar jam 19.30. Mungkin benar kata mas Tarno ini, gue akan sampe PIM jam 21.00. Kongkow bentar, tutup, pulang, end of story.

Sesampainya di Bangka, gue menunggu Mbek sebatas di depan pagar. Lalu muncullah orang yang minta dijemput itu. Sesosok laki-laki berkulit putih, pake kemeja, lengkap dengan ranselnya yang besar dan penuh baju kotornya dari Jogja dan kamera, rambut klimis, berkumis dan jenggot ala kambing, yang menjadi trademark di balik panggilan ‘Mbek’. Penampilan dan wajahnya berhasil menipu 10 tahun lebih muda dari usia sesungguhnya. Yap, orang yang usianya jauh lebih tua dari gue ini adalah teman baik gue, yang sudah gue kenal dari SMP, sekitar hampir 7 tahun yang lalu.

Baru dia masuk taksi, gue komentar soal rambut klimisnya yang kayak om-om. Topik pembicaraan kami dibuka dengan membicarakan usia, dan belum 500 meter perjalanan, tiba-tiba mas Tarno ngakak. Ngakak, ya, bukan hanya ketawa. Gara-gara gue cak-cakin Mbek tua. Padahal, ya memang tua! Hahaha.

“Lu jangan ketawa-ketawa lu! Nguping aja!” kata Mbek sok-sokan pake nada marah-marah yang bercanda ke mas Tarno.

“Yaudahlah, ya. Namanya juga orang, punya kuping, ya dengerlah!” kata gue yang awalnya cukup kaget sama ngakaknya mas Tarno yang memecah keheningan dia sejak Mbek masuk

“Emang umur lo berapa?” Tanya Mbek ke mas Tarno, penasaran

 “Saya mah sudah tua.” Kata mas Tarno. Mungkin yang dimaksud mas Tarno ‘sudah tua’ adalah dia lebih tua dari Mbek. Karena dari perawakannya, mas Tarno terlihat umur 30-an, paling seangkatan. Itu yang ada di batin gue.

“Berapa?” Mbek ngotot

“32” kata mas Tarno

Saya ngakak. Benar apa yang gue bilang. Seangkatan!

“Tuh! Seumuran elu!” kata gue sambil nepok-nepok lengannya.

“Gak” kata Mbek, gak terima.

“Emang lu berapa? 32, kan?” karena emang setau gue umurnya 32 juga.

“30”

“HAAAAAAAAAHH???” reaksi gue berlebihan.

Singkat cerita, obrolan gue dan Mbek gak cuma 2 arah, tapi jadi 3. Mas Tarno jadi orang ketiga. Nyeletuk-nyeletuk.

Di taksi, gue bercerita drama putusnya gue dari mantan terakhir gue, dan dia juga membuka kartu dia gimana kandasnya hubungan dia yang berlangsung lebih lama dari gue kenal dia.

“Udaaah, jadian ajaa!” samber mas Tarno, “Mas jomblo, mbak jomblo, jadian aja sekarang, di taksi ini, saya jadi saksi!” katanya bersemangat.

………KRIK……..

“Mas, gua ini udah tau busuk-busuknya dia. Gak akan gua sama dia” kata Mbek menegaskan

“Tauk nih! Gaklah, mas! Saya udah tau jeleknya dia. Lagian udah om-om gini, ogah!” timpal gue

Dan obrolan kami berlanjut sampe setibanya di PIM. Dan berlalu begitu saja. Inti dari yang mau gue sampaikan adalah, betapa beruntungnya kalo kita dapet supir taksi yang kayak begitu. Dari segi aroma, taksinya gak bau. Supirnya juga gak yang bawel, gak yang diem doang. Mas Tarno ini bisa dibilang tipe supir taksi yang pas, karena dia nyambung diajak ngobrol dan waktu gue di jalan sendiri mau jemput Mbek, kalo saatnya gue diem, ya dia diem. Di saat dia basa basi, ya basa basi.

Pernah satu hari gue dapet supir taksi yang pendiem banget! Dari Pancoran ke Gading Serpong supirnya diem saja. Bapak-bapak, hitam, gendut, mukanya serem. Ditanya apa juga jawabnya kayak ngomong sendiri gitu, suaranya kecil banget dan diem aja kalo gak diajak ngobrol. Jujur, gue gak suka keadaan super awkward kayak gitu.

Pernah juga gue diceritain temen gue, Nadia, dia pernah dapet supir taksi yang super bawel. Sampe curhat tentang kehidupan lamanya yang dia jadi direktur, cerita tentang anaknya yang pinter, bahkan sampe dikasih lihat foto anaknya. Cas cis cus, gak berhenti-henti ngomong, dan disitu posisi Nadia dan temen gue, Yani, cuma bisa mendengar dan mengiyakan perkataannya. Kalo udah menanggapi 2 situasi gak mengenakkan seperti itu, senjata gue cuma 1: iPod! Pasang headset, dan gue gak peduli dunia! Hahaha.

Jauh sebelum peristiwa Minggu itu, gue pernah dapet supir taksi yang sangat nyaman diajak ngobrol. Sebut aja pak Budi. Pak Budi ini kurang lebih gak jauh beda sama mas Tarno, tau posisi kapan dia ngomong, kapan dia diem. Taksinya juga wangi buah, kesukaan saya. Gak ada bau-bau ketek. Dan Pak Budi benar-benar tahu seluk beluk kota Jakarta, jadi gue percayakan sepenuhnya perjalanan gue pada pak Budi. Gue lupa tujuan gue kemana, yang jelas rute gue cukup mondar mandir. Kalo gak salah, dari kosan Gading Serpong, ke rumah di Pancoran, trus ke kosan lagi. Karena saya merasa nyaman, saya mengajak pak Budi untuk ikut semua rute perjalanan saya. Sesampainya di rumah, saya suruh tunggu di rumah, dan suguhkan kopi sambil nunggu saya. Karena gue males gonta-ganti taksi lagi. Dan sudah beruntung dapet supirnya kayak gitu. Karena seperti gue bilang tadi, naik taksi itu gambling.